Monday, October 4, 2010

Kucing Persia, Si Manja Berbulu Istimewa


Kucing, merupakan satwa yang sangat lekat dengan kehidupan manusia. Itu bisa dilihat dalam kehidupan liar kucing, maupun yang dipelihara. Namun yang pasti, hewan yang satu ini pada zamannya pernah menjadi suatu lambang status bagi orang Mesir misalnya. Kucing memang banyak jenisnya, seperti Angora, Burmase, Siamase, dan Persia. Hanya saja untuk kali ini yang akan diungkap ialah jenis kucing Persia yang punya bulu panjang.

Anyelir terlihat begitu menggemaskan. Ia tampak manja menggayuti bahu sebelah kiri sang nyonya, Henny Retnowati. Tak sedikit pun badan Anyelir bergeser walau ia sudah dikerubuti banyak orang. Bulu putihnya yang halus seperti kapas jadi daya tarik selain gaya manjanya tadi. Kalau Anda ikut berjumpa, dijamin akan tergerak untuk ikut membelai.

Anyelir adalah satu contoh kucing Persia. Menurut Russy Erwin, dari Indonesian Cat Association (ICA), di Indonesia kucing Persia jadi favorit para pehobi. Sebab, kucing ini punya bulu lebat dan panjang, tebal serta variasi bulu dengan pola yang teratur dipadukan dengan warna bulu matanya yang indah dan menawan.
Bila dilihat dari asalnya, kucing Persia ini, dikenal sebagai ”Longhaired Cat” yaitu ras kucing yang memiliki keistimewaan, terutama bulunya yang panjang. Dilihat dari asalnya, kucing ini sesungguhnya berasal dari Persia, Iran, dan dibawa masuk ke Eropa pada abad ke-16.

Pada zaman Victoria, konon kucing ini menjadi simbol keagungan dan kekayaan. Sehingga kucing-kucing jenis ini, memang hidupnya sangat lengket dengan kehidupan para bangsawan di zamannya. Kini, kucing ini telah melanglang buana hingga ke berbagai negara di dunia dan beranak-pinak. Tak jarang tetap memakai nama Persia, padahal kucing tersebut diimpor dari Inggris, Amerika Serikat, Belanda, dan Rusia.
Banyak orang yang tertarik dengan berbagai macam kucing, terutama jenis kucing yang memiliki bulu panjang, lebat dan warnanya yang indah. Selain bulunya yang panjang itu, tubuhnya pun enak dan sedap dipandang mata, karena bertubuh montok dan lembut.

Ternyata bagi para pehobi berat, kucing Persia tidak dipelihara hanya sebagai hobi semata, tetapi juga mempunyai daya tarik tersendiri.


Menggemaskan

”Kucing itu menggemaskan,” sebut Henny Retnowati, pemilik Anyelir White Candy, kucing Persia betina yang berumur tiga tahun. Kecintaan Henny pada kucing sebetulnya sudah dimulai sejak masih kanak-kanak. Waktu itu, ibu dua anak ini memelihara kucing kampung.

Kisah perkenalan Henny dengan kucing ras, terutama Persia dimulai pada 1996. Ceritanya, waktu itu dirinya sedang jalan-jalan di Gadjah Mada Plaza dan melintas di depan sebuah pet shop. Di situ ia membeli sepasang kucing. Ternyata kucing yang dibeli tadi tak menghasilkan keturunan seperti yang diharapkan. Lalu Henny pergi ke Pandanwangi Cattery, Bandung.

Di Pandanwangi Cattery, Henny banyak belajar kepada Heri Marwanto (52), sang pemilik. Sejak itu, ibu ramah ini berhasil mengembangbiakkan kucing-kucing kesayangannya itu. Kini, hanya delapan ekor yang dipelihara Henny. Di antaranya, Anyelir White Candy (runner up Persian female in pedigreed class di ICA Cat Festival 2003), Mithril (runner up kelas Neuter di ICA Cat Festival 2003), Shalimar dan Gema.
Saat ditanya mengapa kucing Persia yang dipilih, Henny dengan yakin menyatakan bahwa kucing ini punya bulu yang istimewa, panjang dan tebal. Apalagi ia senang dengan satwa yang berbulu panjang. ”Dia itu lucu, manja dan mengerti kalau kita sayang.”

Manja dan berbulu istimewa itu ternyata juga berhasil memikat Russy Erwin. Kucing yang punya tampilan pesek itu paling suka diajak bercanda. ”Karena senang diajak bercanda dan manja, saya jadi suka dengan kucing ini,” tutur ibu berusia 39 tahun ini.

Pada awalnya, Russy mengaku tak suka dengan kucing. Ia takut tertular protozoa Toxoplasma gondii. ”Suatu saat anak saya minta dibelikan kucing Persia sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata harganya kok mahal, sekitar satu juta rupiah. Saya kira cuma 200.000 saja,” kisah Russy. Karena terus merengek akhirnya ia membelikan sang anak kucing Persia. Lama-kelamaan, Russy tertarik karena sifat-sifat yang dimiliki kucing pemalas.
Untuk menambah pengetahuan, Russy ”lari” ke Pandanwangi Cattery. Seluk- beluk perawatan dan pemiliharaan ia pelajari dengan saksama. Akhirnya semua ketakutan itu hilang. Selain dari Heri Marwanto, Russy juga memperdalam ilmu kepada dokter hewan.

Kini, koleksi kucingnya tinggal 15 ekor saja. Sebelumnya, berjumlah total 60 ekor. ”Saya pikir punya kucing banyak-banyak untuk apa. Terlalu banyak malah nggak terkontrol. Lebih baik sedikit tetapi kualitas dan kesejahteraan kucing bisa ditingkatkan,” jelas ibu dua anak ini.

Walau punya banyak kucing, Henny dan Russy sama-sama tak merasa repot. Mereka tetap menemukan keasyikkan tersendiri ketika mengurus kucing-kucingnya. Keduanya tetap meluangkan waktu untuk memandikan dan mengeringkan kucing. Selain lebih murah, sekaligus bisa menebar kasih sayang kepada satwa kesayangan. ”Setiap dua minggu sekali, kucing-kucing saya harus dimandikan,” sebut Russy.
Yang namanya cinta memang bisa bikin ”gelap”. Kepuasan adalah segalanya. Walau harus mengeluarkan bujet rutin sekitar satu juta rupiah per bulan untuk kebutuhan pakan dan pasir, Russy mengaku tak ada masalah. ”Angka itu di luar kebutuhan vaksin, shampoo dan vitamin.”

Jadi buat Anda yang tertarik mencoba koleksi, tampaknya harus perhitungkan betul kondisi keuangan. Harga beli kucing Persia memang tak sembarangan. Yang biasa-biasa saja, sekitar 600.000 sampai satu juta rupiah. Menurut Heri Marwanto, kucing Persia berkualitas kontes, anakan dengan umur tiga bulan harganya antara tiga sampai lima juta rupiah. ”Kalau yang impor, bisa sampai puluhan juta,” tukasnya dengan nada serius. Fantasis kan? (SH/bayu dwi mardana)


Keterangan Gambar :
Dok. Henny Retnowati
Mithril. Kucing Persia jantan asal New Zealand, peraih runner up kelas Neuter di ICA Cat Festival 2003.


Sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2003/0611/hob1.html

Kucing Toyger


Sejarah

Ras kucing ini merupakan hasil persilangan kucing domestik dengan bengal. Tujuannya untuk menghasilkan harimau kecil yang bisa diajak main dan dipelihara di dalam rumah. Kata Toyger sendiri merupakan singkatan dari "Toy Tiger" (harimau yang bisa diajak main).Ras Toyger ditemukan dan dikembangkan oleh Judy Sugden, pemilik sebuah Cattery di Amerika yang bernama "EEYAAS Cattery". Toyger dihasilkan dengan cara menyilangkan kucing domestik belang (tabby) yang berbulu pendek, dengan Bengal Tabby Standar. Setelah bertahun-tahun kerja keras, perkawinan kucing-kucing ini menghasilkan kucing-kucing dengan warna belang menyerupai harimau.

Ras ini masih dalam pengembangan.Pertama kali diakui untuk registrasi oleh The International Cat Association (TICA) pada awal tahun 1990-an. Beberapa breeder di AS dan Inggris berusaha mengembangkan ras ini. Toyger mendapatkan status Preliminary New Breed pada tahun 2000. Dan pada bulan Mei tahun 2007 ini diharapkan mendapatkan status penuh dalam kontes kucing (Championship Status).


Karakteristik

Toyger adalah kucing berukuran sedang dengan bulu menyerupai bengal. Toyger mempunyai temperamin yang baik dengan kesehatan yang baik dan relatof tahan terhadap penyakit.
Warna ideal adalah warna oranye tua dengan belang hitam seperti pada harimau. Pola belang harus memanjang tanpa ada spot. Telinga kecil dan bulat. Secara keseluruhan Toyger mempunyai struktur pertulangan yang padat dan seimbang.


Temperamen

Toyger adalah kucing yang penyayang, cerdas, senang tidur tetapi cukup aktif dan agresif. Mudah dilatih mudah beradaptasi dengan anak-anak atau hewan lain. Pada saat ini beberapa garis keturunan toyger memiliki sifat cukup vokal (sering mengeong)


Sumber & Foto : Hicats.com, Kompas, National Geographic.

Sumber :
http://kucingkita.com/content/toyger

Asal Muasal Sikap Liar dan Manja Kucing

ahukah Anda bahwa kucing domestik alias kucing “kampung” yang kita jumpa setiap hari ternyata berasal dari kucing liar yang melakukan kawin campur lebih dari 100.000 tahun silam.

“Kucing rumah, termasuk kucing hias, membentuk kelompok genetika yang tak dapat dibedakan dari Timur Tengah,” ujar Stephen J. O’Brien dari National Cancer Institute (NCI) seperti yang dimuat di jurnal Science belum lama ini.

Adalah Carlos Driscoll, dari Oxford University dan NCI tergabung dalam tim internasional yang mempelajari asal muasal hewan peliharaan yang manja ini. Namun riset ini cukup serius juga, sebab kucing adalh model bagi sejumlah penyakit genetik manusia seperti gangguan ginjal dan pengelihatan. Lebih dari itu riset ini diharap bisa mendorong kegiatan perlindungan terhadap spesies kucing liar.

Nenek moyang kucing berasal dari lima jenis kucing liar, namun bukan berarti mereka mengalami proses domestikasi sebanyak lima kali, demikian menurut Driscoll. Lima jenis kucing ini berasimilasi dalam beragam waktu berbeda dan menghasilkan spesies Felis silvestris lybica, nenek moyang kucing modern.

“Ini adalah eksperimen yang menakjubkan dimana hewan kehilangan sisi liarnya,” ujar O’Brien. Kucing dikenal juga dengan sikap ganasnya, sekaligus juga sifat manja dan lembut. Berarti memang pada dasarnya kucing di masa silam adalah hewan ganas yang bermetamorfosa menjadi hewan peliharaan di masa kini.

Ilmuwan menemukan bahwa kucing liar memiliki kesamaan DNA dengan kucing domestic di Israel, Emirat Arab, Bahrain dan Arab Saudi. Setelah mempelajari mitokondria DNA pada 979 kucing liar dan domestik seantero Asia, Eropa dan Afrika, mereka menyimpulkan bahwa asal muasal spesies ini sudah berkembang sejak 130.000-160.000 tahun silam. Mitokondria DNA ini diturunkan melalui ibu ke anak.

Bukti arkeologi hubungan antara manusia dan kucing pertamakali ditemukan 9500 tahun lalu di Ciprus. Kucing-kucing liar yang juga terlibat dalam studi ini adalah kucing liar Eropa Felis silvestris silvestris, kucing liar Asia tengah , F. s. ornata; kucing liar sub Sahara Afrika, F. s. cafra, dan kucing gurun Cina , F. s. bieti.

*Diterjemahkan secara bebas dari Associated Press (AP). *

Sumber :
Merry Magdalena
http://netsains.com/2007/06/asal-muasal-sikap-liar-dan-manja-kucing/
29 Juni 2007

Bahaya Pelihara Kucing

Ternyata memelihara kucing di rumah itu ada risiko tertular beberapa jenis penyakit. Satu yang paling harus diwaspadai, bila membawa penyakit toxoplasma . Nahhh .. Ini sejenis parasit yang hidup di usus kucing. Maka parasitnya berpotensi menulari lewat tinja kucing.

Karena tinja kucing berceceran di sekitar rumah, bisa jadi parasit juga berpotensi tersebar di sekitar permukaan tanah, lantai, dan pekarangan rumah. Parasit juga melekat pada bulu, mulut, dan wadah bekas makan kucing. Nahhh .. tu wilayah yang perlu diwaspadai ya!

Parasit dalam usus kucing ini juga bisa hidup di tubuh manusia. Maka kita sebut penyakit hewan yang bisa juga pada manusia atau zoonosis. Berdekatan hidup dengan kucing berisiko tertular parasit ini. Tenang dulu Tentu tidak semua kucing membawa parasit ini. Hanya kucing yang tertular saja yang menjadi sumber penular.

Bukan hanya kucing. Bisa juga anjing, kambing, sapi, kerbau, atau hewan apa saja yang tertular parasit ini. Biasanya hewan yang merumput. Kambing dan kerbau mendapatkannya setelah makan rumput yang sudah tercemar parasit ini. Kotoran kucing yang berceceran terbawa kaki kucing ke rumput yang kemudian dimakan kambing atau hewan pemakan rumput lainnya.

Parasit dalam bentuk kiste yang masuk ke tubuh kambing atau pemakan rumput yang tercemar parasit akan tumbuh di dalam daging. Maka hati-hati makan daging kambing, kerbau, atau sapi setengah matang, jika ternyata ternak tersebut mengidap toxoplasmosis.

Bagi bayi, toxoplasma sama risikonya dengan pada orang dewasa. Namun kelak pada kaum Hawa, parasit ini menimbulkan masalah bila sedang hamil positif toxoplasma. Tahunya berpenyakit, dari pemeriksaan darah di laboratorium, kedapatan positif toxoplasma. Kehamilan dengan toxoplasma berakibat anak cacat dalam kandungan, kalau bukan anak mati. Maka sebaiknya tidak hamil dulu kalau positif toxoplasma.

Ada jenis penyakit lain yang dibawa kucing, berupa penyakit cacing. Tapi tidak lebih berbahaya dibanding toxoplasma. Cara mencegah agar tidak tertular, dengan menjaga kebersihan. Selain kebersihan lingkungan rumah, juga kebersihan perorangan, khususnya tertib mencuci tangan. Parasit dari sekitar rumah mudah melekat pada jemari tangan. Bila makan tanpa membasuh tangan dengan sabun sampai bersih, maka penularan toxoplasma berlangsung melalui jemari tangan ini.

Yang terpenting jaga kebersihan aja

Sumber :

http://dhieeewhe.wordpress.com/2009/03/28/bhay-pelhar-kucng/
28 Maret 2009

Kucing Anggora

Sebenarnya sampai saat ini penulis tidak tahu tulisan yang benar apakah angora atau anggora. Tapi karena kebanyakan pencari di internet menggunakan kucing anggora maka kita gunakan ini saja.

Karena banyak di internet yang jual kucing anggora dan bertanya harga kucing anggora. Jadi kita yang pakai dobel g itu saja.

Sebenarnya sejarah kucing anggora tidak bisa dilepaskan dari kucing persia. Mengapa? lihat artikel kucing di bawah ini :

Dari yang penulis tahu dulu kucing persia juga disebut kucing anggora. Hal ini terjadi beratus-ratus tahun yang lalu. Waktu itu kebanyakan orang menyebut kucing berbulu panjang dengan sebutan anggora. Dan kebayakan kucing tersebut terdapat di kota anggora (Kota di Turki) dan persia(Turki bagian timur). Sekarang anggora menjadi Ankara,ibu kota turki dan persia berubah menjadi negara iran.

Waktu itu katanya nggak ada perbedaan signifikan antara kucing anggora dan kucing persia. Jadi kucing yang dulu berasal dari persia (asal usul kucing persia) disebut kucing anggora.

Tapi persamaan itu akhirnya berakhir, ketika banyak orang eropa banyak berdagang di timur tengah. Dan membeli atau mendapatkan hadiah dari penjual kucing anggora. Kemudian kucing yang disebut anggora itu dibawa ke eropa.

Dan kemudian cat show di inggris membuat kucing berbulu panjang ini menjadi populer. Kemudian sifat genetik kucing anggora dan kucing persia dibedakan dan masing-masing menjadi jenis murni. Tapi jangan tanya harga kucing anggoranya waktu itu berapa ya? Aku juga nggak tahu

Akhirnya seperti yang kita tahu kucing persia memiliki ciri-ciri kucing seperti tubuh besar, tebal, kepala bulat dan badannya cobby. Sedangkan kucing anggora memiliki ciri seperti berikut :

1. Ukuran badan sedang
2. Badan panjang dan langsing
3. Kaki dan ekor panjang
4. Hudung mancung
5. Telinga besar
6. Seluruh kepala berbentuk segitiga
7. Ekor berbulu tebal dan mengembang
8. gaya anggun lemah gemulai (kayak penari aja)
dll

Harga jual kucing anggora sekarang ini mungkin sekitar jutaan. Umur 3 bulan biasanya dijual dengan harga 1 sampai 1,5 juta. Tapi ingat kalau mau adopsi kucing harus sudah siap dan mental..halah!


Sumber :
http://kucing.web.id/kucing-anggora/

Friday, October 1, 2010

Some Good News for the Month of Me



So, I admit to avoiding my own blog lately. It's not surprising after the last three posts about losing so many loved ones. This year has not been too kind to me and mine, and I guess I needed time to get my head together after all the sadness. Things are beginning to take an upward turn at last, perhaps because I am once again entering the month of me.

If you don't know me or are new to this blog, let me explain that I was born on October the 18th, 1969, and since I turned forty (last year), I decreed it time to be selfish and take an entire month to celebrate my birth. After forty years, we all deserve much more than just one lousy day. I say live it up while we still have our health. Last year's month of me was the best part of the year thanks to my dear friends who celebrated in style with me at Shakori Hills where Donna the Buffalo, the best band in the world, serenaded me, and I won't even tempt to top that this year. I am going for another Donna concert with friends this coming weekend,of course, but then I'm missing Shakori all together and opting for a week at the beach because it sounds like heaven right about now. I will be busily hunting beach glass, or laying like a barnacle on my blanket in the sand.


Anyway, just in time for the month of me, the wonderful news has hit the stands that I am to be one of the eleven women honored by the Academy of Women this year for outstanding contributions in the category of the arts. I was completely floored. So just a couple of days after my 41st birthday, I will have to stand up in front of the Central Virginia community and give an acceptance speech. There is, indeed, always a down side to every great thing. Still, they only want said speech to last five minutes...whew. The dinner and awards ceremony information can be found in the News and Advance article. Click the green Academy of Women link above for more info. The proceeds raised from the dinner will go to the YWCA of Central Virginia, whose motto is "eliminating racism, empowering women." So, come on out to help me celebrate the night and the other ten women who are being honored, and help an excellent cause in the process.

So, what other good news can I share? I am still working diligently on my graduate project and the painting and writing for this is moving right along. It seems to be flowing out of me these days. Of course, this leaves little time for anything else, like writing blogs and submitting new poetry and short stories to publishers, or calling, writing, and generally responding to invitations from my friends. I've even had to turn down or put off several excellent job and volunteer opportunities for worthy causes. There are just not enough hours in my day. I hope everyone will forgive me.



I did manage to squeeze out enough time to get my art entered into some shows over the summer. Thanks to my studio mate Terri, who reminded me of dates, kept me focused, and even picked up my art for me while I was away for school, I was able to take second place for my dragonfly photo in the Rockbridge Regional Show in July. I showed at Kaliedascope a few weeks ago, also. Thanks to all the friends and clients who came by to support me at the show.

Next, there will be three of my photos and two paintings inspired by my years living in Morelia, Mexico showing this month at the Bowen Center for the Arts in Bedford, Virginia for their "Latin American Show." If you are in the area, the show opens next Friday, October 8th and runs through the middle of November. Also, Art on 12th, where I have my studio, will be open to the public on Sunday, November 14th from 1:30-4 pm. We are located above the new Art Box on the corner of 12th and Grace St. in downtown Lynchburg. Come on by, enjoy snacks and conversation and see what all the fabulous artists in the building are working on.



So, that gives you a little taste of the positive side of my life, plus a a little taste of my art. Thought it might brighten up your days. Have a great month of me!

Wednesday, July 14, 2010

My Angel of Mercy


Ten years ago, I met my angel of Mercy. She did not come in the form I expected, no hail of glory, no white wings and glowing halo, but she was an angel and she saved me, none the less. We were introduced by a friend while I was still grieving deeply over the loss of Isabeau, my first Rottweiler, who had lost a long and horrible battle with cancer. Although I swore I would never put myself through the sorrow of losing another dog, my friend knew I was in need, and she happened to know a dog who needed me, too. Mercy was the angel I never saw coming.

One of the best things about Mercy was that she simply loved everyone. If you gave her a cookie and a pat on the head, she would help you carry the TV and anything else you wanted to the car. She loved kids, and often put up with whatever they could dish out. Five minutes after meeting my four-year-old cousin Grant, pictured above, she was wearing his Pirates hat and his blanket and playing Superdog without complaint. She seemed fine with helping Katie, who is two, get over her fear of big dogs, too.

When we met,she was named Mercedes and she was in serious need of help. I went to her house skeptical that I was not ready for another dog, that I could not handle the emotional attachment. But, when I saw Mercy at two years old, weighing nearly 200 pounds and suffering greatly from obesity, I knew I had to take her home with me. She was a sweet and lovable klutz who was badly in need of a health overhaul, not unlike myself. We dieted together, but she was much more successful at it than I was perhaps due to the personal trainer. I could be so regimented with her and am still unable to keep myself in line. Go figure. Anyway, she lost enough weight to make up a whole second dog until she was down to the normal 120 pound mark. In the deepest hours of my depression, helping Mercy made me stronger. She was a loving friend who pulled me back into the land of the living.

Mercy did not just rescue me, however, she rescued another, or actually we rescued her together. One day, on my way to work, I found a female Healer / Terrier mix in the middle of the road nursing a litter of puppies near the back gate to the zoo where I worked. About half of the puppies in the litter, there were a lot of them, resembled the male pure bred rottweiler, so they had their tails docked. Since the owner of the dogs had already been caught several times selling half breeds as pure, and since I was a member of the local humane society, we chose to confiscate the puppies. Later, all of the other dogs were removed from the owner and he was fined, as well.

The first puppy I picked up from the pile in the road burrowed under my hair and began to make a soft, whimpering noise. After helping the humane society volunteers who came out to help pick up all the dogs and capture the mother, I was still holding this one puppy under my chin, and I literally could not put her down. I so did not need a second dog, having just taken Mercy home and feeling like she was not even settled in yet. But, I took the puppy home thinking I would just elect myself in charge of finding the one pup a good home.

Mercy took immediate charge of the tiny, little thing, cleaning and protecting her. They romped and they played and their famous freedom races at the end of each day probably aided Mercy in losing that last pesky pound or two. My favorite game, however, started on the first day they met. Mercy would play tug-o-war with the puppy, offering her the favorite toy, and after tugging for a bit, she let the little one win the game every time. They laid together with the puppy tucked safely between Mercy's front legs every night to sleep. I found several friends with farms who were interested in giving the puppy a home, but when they came over to meet her, Mercy placed herself between them and growled. Nobody was taking her baby away, least of all me. So, I named her Cinco de Mayo, after the day I found her, and we call her Cinco for short.

Mercy, Cinco and I became a family, a pack if you will, and we have been the best of friends. Sadly, and most likely due to Mercy's obesity in her youth, she contracted both thyroid and cushings disease, both of which are endocrine diseases. She was diagnosed about a year ago. Although the thyroid was treatable, there is nothing much to do for cushings except treat her symptoms and keep her comfortable. Even the cutting-edge, best drugs for the disease are questionable and do nothing to cure the animals. In the end, it is degenerative and eventually shuts down the internal organs due mostly, I'm told, to an excess of steroids in the system.

Mercy was amazing all the way to the end. She never complained, and she always stayed in the best frame of mind. Even a trained observer like myself had a hard time telling when she suffered. Most dogs become depressed, stop eating, stop grooming, or show signs of hurting, but Mercy stayed stoic, eager to please, eyes bright, and happy to be alive even as her kidneys were shutting down. After the tremors began to cause her to flop around and kept her from walking well, and she started having trouble standing up and laying down, even when she stopped processing food well, and started flinching whenever she was touched, she was never depressed. She would just shake it off and move on as if nothing was wrong. But, after it became apparent she had made it to the acute renal failure stage, we finally made the decision today to prevent any more suffering.

Right up until the end, Mercy was giving me kisses and hugs and panting with her big, sloppy smile even as she splayed out on the hospital floor and was unable to stand back up. She seemed more concerned about me and why I was upset than the fact that she could not stand up on her own. Once I sat down on the floor beside her and gave her another hug, she seemed happy to just stay where she landed and let the doctor work on her. She let me hold her and gave me kisses right up until the very end, and I know that if any dog has a special place in heaven, Mercy does. I told her I thought St. Francis probably had another assignment for her already, some other lost soul who needs rescuing. Mercy literally saved me, and although I can't really speak for her, I'm betting Cinco would say the same. We already miss her more than words can express.

Thanks, my Angel of Mercy!